Semarang.panjinasional.net.
Menristekdikti Muhammad Nasir menegaskan pesantren menjadi pilar sosial pendidikan Indonesia tertua. Namun keberadaannya saat ini menjadi semakin diperhitungkan karena pengembangannya sudah banyak yang berbasis informasi dan teknologi.

“Santri tidak hanya bisa mengaji tetapi bisa mengikuti perkembangan ilmu yang lainnya terutama yang berbasis pada teknologi industri maupun teknologi informasi. Tentu saja karakter pengembangannya harus disesuaikan dengan kondisi daerah pesantren tersebut, ” kata M. Nasir dalam acara Sosialisasi & Lounching Akademi Komunitas Berbasis Pesantren dan Pameran Industri dalam Bingkai Ketahanan Nasional di Gradhika Bhakti, Jln Pahlawan Semarang, Rabu (5/12/2018).

Selain Menristekdikti Muhammad Nasir beserta rombongan, hadir Wagub Jateng Gus Yasin, Sekda Sri Puryono, Wakil Syuriah PWNU Jateng KH. M. Dian Nafi, Sekjen Wantanas Letjen TNI Doni Monardo, Ketua Tim Percepatan dan Pendampingan Pembentukan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren kerjasama LPTNU-Penabulu Agus Jui, Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier dan rombongan, ratusan perwakilan SMK di pesantren se Jawa Tengah, dan lain-lain.

Dengan adanya pengembangan dan pemberdayaan pesantren, lanjut menteri, secara otomatis kesejahtetaan ekonomi akan meningkat dan kaum santri akan menjadi lebih baik kehidupannya. “Ketahanan nasional pun makin kuat,” tandasnya.

Sebagai ilustrasi di Bantai, Sulawesi Selatan, gubernurnya menginstruksikan agar masyarakat menanam pohon Talas untuk diekspor ke Jepang.

“Dalam hitungan perhektar, pohon Talas mampu menghasilkan Rp. 240 juta per tahun dengan biaya operasional sekitar 30 persen,” jelasnya.

Di Jateng, masih banyak daerah yang berbasis pertanian maupun perkebunan. Kondisi ini, tambahnya, bisa diselaraskan dengan vokasi pendidikan pesantren terdekat.(Mim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here