Batu, Panjinasional :
Salah satu Program unggulan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu patut di acungi jempol, pasalnya di desa tulungrejo di samping sebagai tujuan wisata juga menyajikan wisata edukasi, yang bisa menjadi bahan pembelajaran sekaligus berwisata.


Implementasi dari wisata edukasi itu sendiri muncul dari sebuah gagasan untuk mendongkrak PAD DesaTulungrejo.

Wisata edukasi di samping menyajikan berbagai pengetahuan tentang alam juga mengangkat kearifan budaya lokal mulai dari edukasi tentang berternak kelinci, bertani jamur hingga bercocok tanam.

Para pelajar di ajak berkunjung ke berbagai tempat mulai dari kelompok tani Bunga, Jamur, Apel, Kelinci hingga kelompok Tani Sapi perah, dan ke Coban Talun.

Suliono Kades Tulungrejo menjaskan wisata edukasi sebagai pengetahuan extra bagi pelajar, bahwa kegiatan masyarakat agraris adalah seperti ini, dan mereka tahu bahwa mayoritas penduduk di sini adalah petani sayur.

“Dengan adanya Wisata Edukasi, kita bisa memperkenalkan, juga memberikan pembelajaran kepada anak-anak sekolah tentang budaya lingkungan, bagaimana kultur budaya orang pegunungan, dan yang utama dengan wisata edukasi pelajar bisa tahu bahwa di desa tulungrejo terdapat tempat wisata dengan udara yang sejuk dan panorama yang indah,” kata Suliono.

Sampai dengan saat ini (kamis, 30/10/2018) Desa Tulungrejo sudah menerima banyak sekali pelajar sekolah dari berbagai penjuru nusantara untuk melakukan wisata edukasi.

“Kita hari ini kedatangan rombongan 12 bus yang terdiri dari 600 murid dari SMA 7 Surabaya. Kita sengaja mengajak para siswa dan siswi untuk mengenalkan potensi wisata yang ada di Desa Tulungrejo,” lanjut Suliono.

Ia menambahkan bahwa wisata edukasi adalah salah satu program desa Tulungrejo untuk memberikan peluang kepada sekolahan untuk belajar.

“Ini adalah program desa untuk memberikan peluang kepada pelajar sekolah untuk mengetahui bahwa ini adalah desa yang benar-benar bisa berpotensi. Dan di harapkan untuk desa-desa lain di Jawa Timur khususnya Batu, kalau bisa juga di jadikan wahana wisata edukasi,” paparnya.

Sementara itu Supriyadi salah satu pengelola OYOT, juga menambahkan bahwa dengan adanya kunjungan ini bisa meningkatkan PAD dan memberikan kontribusi terhadap Desa.

“Sampai dengan saat ini sudah ada 9 wahana di coban talun, ayunan, Oyot, pagupon apache camp, alas pinus, taman bunga, rumah terbalik dan goa jepang dengan tarif 5 hingga10 ribu, foto selfi, dam toyo keceh (dam cinta) terkesan seperti berfoto di airterjun niagara, kemudian kolam Bebek ontel, untuk adrenalin ada sepeda udara, dan untuk Adventure ada Mini trai dan atv, terangnya.

“Awalnya Oyot, terinspirasi dari melihat ramainya suasana pengunjung di Coban Talun, kemudian ingin merubah mainset warga Talun (rw15) yang punya pemikiran, kalo tidak menanam tidak makan, tapi kemudian pohon di sekitar lahan pertanian semakin hari semakin besar, dan kalau di buat menanam sayur otomatis tidak bisa tumbuh dengan baik, karena kesuburan tanah terserap pohon, jadi sekarang kita biarkan pohon tumbuh, dan mengelola lahan sebagai tempat wisata,” lanjut Supriadi.

“Sebagai pelayanan terhadap pengunjung ataupun wisatawan kita menjunjung K3, Kenyamanan, Keamanan, Keindahan. Harapannya agar masyarakat bisa sejahtera khususnya RW 15 dan umumnya masyarakat Desa Tulungrejo,” pungkasnya. (Gus-Er)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here