YOGYAKARTA — www.panjinasional.net
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah yang masuk ancaman bencana dan daerah rawan bencana. Oleh karena itu, perlu upaya peningkatan kemampuan di bidang penanggulangan bencana.

Berkaitan hal itu, Program Studi S1 Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengadakan pelatihan manajemen bencana dasar di Islamic Center Kampus 4 UAD, Jl Ring Road Selatan, Kragilan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, 15-16 September 2018, dibuka Irvan Budhi Handaka, M.Pd (Sekretaris Prodi BK UAD).

Menurut Irvan Budhi Handaka, pelatihan manajemen bencana dasar dilakukan agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam penanggulangan bencana.

Seperti disampaikan Dody Hartanto, M.Pd, ketua panitia sekaligus Ketua Prodi BK FKIP UAD Yogyakarta, kegiatan itu untuk melatih ketrampilan mahasiswa dalam melakukan manajemen bencana.
“Diharapkan, peserta setelah memeroleh pengetahuan itu dapat mengimplementasikan ketika mengajar dan mendampingi siswa,” papar Dody Hartanto, Sabtu (15/9/2018), yang menambahkan usai ikuti pelatihan peserta mendapat Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Adapun materi dalam kegiatan kerjasama antara Prodi BK UAD Yogyakarta dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman ini meliputi: risiko bencana di lingkungan kampus UAD, menyusun SOP, dan melakukan rencana aksi komunitas dalam penanggulangan bencana.

Ketika menyampaikan materi manajemen bencana dasar dan kebijakan penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman, Djoko Lelana Mulyanto, ST, Kasie Mitigasi BPBD Kabupaten Sleman, mengenalkan mahasiswa UU No. 24/2007 tentang penanggulangan bencana, istilah-istilah bencana, jenis ancaman yang ada di Indonesia dan siklus bencana.

Selain itu, Djoko juga memberikan informasi tentang berbagai risiko dan penanggulangan bencana yang ada di Kabupaten Sleman.
Praktisi kebencanaan, Zela Septikasari, M.Sc, M.Pd, yang merupakan lulusan Magister Manajemen Bencana UGM Yogyakarta, menyampaikan kajian risiko bencana.

Pada kesempatan itu, Zela Septikasari sampaikan kepada mahasiswa pengetahuan mengenai elemen risiko bencana. Yakni ancaman, kerentanan dan kapasitas.

Kemudian, mahasiswa yang ikuti pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok melakukan transek walk dan untuk mengidentifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas. “Untuk kemudian dikaji risiko bencananya,” kata Zela Septikasari.

Setelah melakukan transek walk, mahasiswa menggambar denah risiko bencana yang ada di kampus, dan diakhiri dengan presentasi hasil kajian risiko bencana.
Mahasiswa sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan ini. Harapannya, mahasiswa yang mengikuti pelatihan ini agar dapat berkontribusi aktif dalam kegiatan penanggulangan bencana yang ada di Indonesia.

Dalam kegiatan yang diikuti 70 mahasiswa S1 Prodi BK UAD Yogyakarta, disampaikan pencegahan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana.

Pencegahan dilakukan melalui identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman, penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup dan penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Melalui pelatihan ini, diharapkan mahasiswa semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam penanggulangan bencana. Sehingga penanganan terhadap bencana dapat lebih cepat, tepat dan dapat meminimalisasi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana. (Affan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here