Gambar Ilustrasi/net

www.panjinasional.net
Sejak Kamis (9/8/2018) lalu, akun Twitter @ILC_tvOnenews dan @iwanfals membuat voting capres dan cawapres pilihan netizen.
Hingga kini, hasil sementara dari postingan tersebut, pasangan Prabowo-Sandiaga tampak lebih unggul dibanding pasangan Jokowi-Maruf Amin.

ILUSTRASI Hasil Polling ILC, Iwan Fals dan NU versi Twitter

Bahkan, pasangan Prabowo-Sandiaga menang jauh dibandingkan dengan petahana.
Rupanya, hingga siang ini, Sabtu (11/8/2018), hasil akhir dari kedua voting tersebut masih sama.
Yakni pasangan Jokowi-Maruf Amin tertinggal jauh dari pasangan Prabowo-Sandiaga.

Dilihat dari akun @ILC_tvOnenews, hasil akhirnya masih sama, yakni pasangan Prabowo-Sandiaga unggul sebanyak 63 persen.
Sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hanya 26 persen.
Kemudian sebanyak 11 persen memilih golput atau tidak memilih.
Hasil voting itu diikuti sebanyak 110.259 pemilih yang merupakan pengguna Twitter.

Kemudian di hasil voting Iwan Fals, Pasangan Prabowo-Sandiaga juga masih tetap unggul.
Namun di voting kali ini, pemilih yang golput lebih sedikit, yakni hanya 5 persen saja.

Pasangan Prabowo-Sandiaga menang dengan presentase 68 persen.
Sementara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hanya 27 persen.
Hasil akhir itu diikuti oleh 50.080 pemilih dari Twitter.
“Wuiiih sementara PraSan jauh meninggalkan JokMar,” tulis Iwan Fals kemarin sore, Jumat (10/8/2018).

Meski begitu, hasil voting ini tentu tidak bisa dijadikan faktor kemenangan dari kedua pasangan calon.
Masih banyak waktu bagi masing-masing pasangan calon untuk mengumpulkan suara di seluruh Indonesia hingga ke pelosok.

Polling Twitter yang Dilakukan Akun Resmi Komunitas Nahdatul Ulama Dimenangkan Prabowo-Sandiaga
Akun resmi dari komunitas netizen nahdatul ulama di Twitter, @Netizen_NU juga membuat polling untuk Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga, Minggu (12/7/2018).

Hingga kini, polling dari NU itu masih berlangsung dan belum menemui hasil akhir (final vote).
Akun @Netizen_NU juga menyematkan polling itu di halaman teratasnya.
Walaupun belum menemui hasil final, namun dari 42.276 pengguna Twitter memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga.
Polling ini juga telah berlangsung selama 6 hari terakhir.

Prabowo-Sandi memenangkan 82 persen, sementara Jokowi dan Ma’ruf Amin memperoleh 18 persen.
Dalam polling tersebut, hanya ada dua pilihan, dan tidak ada penambahan polling bagi yang golput maupun belum tidak memilih keduanya.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya, menurut pakar statistik yang juga guru besar di IPB, Khairil Anwar Notodiputro, polling pada Twitter tidak sahih.
Menurut Khairil, hal ini disebabkan karena tidak ada metodologi dalam pemilihan tersebut.
“Bisakah hasil polling di twitter kita percayai? Pada umumnya polling di twitter tidak sahih secara metodologi,
Jadi tidak usah dipercaya.. cukup dijadikan hiburan saja.” tulis Khairil.

Sementara itu, survei di Twitter tidak membutuhkan biaya khusus untuk memperoleh hasil, berbeda dengan survei oleh lembaga-lembaga yang bergerak di bidang tersebut.

Lembaga survei pun kerap kebanjiran order pesanan survei dari calon ataupun partai politik.
Hal tersebut diamini oleh Direktur Populi Center, Usep Achyar, ia mengakui pada ajang pilkada serentak beberapa waktu lalu pesanan untuk melakukan kegiatan survei naik.
“Ada kenaikan kerjasama sedikit. Tapi, ya tidak signifikan,” kata Usep yang dikutip dari Tribunnews.

Kenaikan pesanan kata Usep justru terlihat signifikan pada Pemilu 2019 kali ini.
Sebab pemilihan calon anggota legislatif bersamaan dengan pemilihan presiden dalam satu waktu.
Baginya, kerjasama dengan partai politik dan caleg tertentu bukanlah hal yang tabu bagi lembaga survei.
Asalkan, tetap pada kaidah yang ada diantara dua pihak.

Dalam perjanjian, ungkap dia, survei hanya bersifat internal. Bukan untuk dipublikasikan kepada khalayak.
“Biasanya memang hanya untuk pengetahuan internal saja. Tapi, kalau mau dirilis, ada perjanjian lain lagi,” kata Usep.
Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfarabi menyebut ada beberapa persyaratan yang cukup ketat mengenai publikasi hasil survei internal.

Pertama, LSI Denny JA tidak akan mempublikasi hasil survei yang ditujukan untuk internal partai atau caleg.
Kedua, apabila ingin dipublikasikan, maka pihak partai maupun caleg diminta untuk tidak melakukan penggiringan opini dari hasil survei mereka.
“Kami kan dasarnya akademis, penelitian. Ya kami tidak mau hasil survei kami untuk internal itu, justru jadi bahan penggiringan opini. Sajikan saja apa adanya,” jelas dia.

Adjie juga blak-blakan mengenai harga yang dikenakan oleh pihaknya untuk pihak-pihak yang menggunakan jasa lembaga survei. Untuk daerah kecil seperti Kabupaten atau Kota rentang harga berada di angka Rp 50-150 juta.
Untuk skala provinsi, harga berada di angka Rp 200-300 juta.

Sementara untuk tingkat nasional seperti pilpres atau pileg di atas angka Rp 500 juta untuk survei secara menyeluruh.
“Ya biasanya memang segitu. Hampir semua lembaga survei, harganya tidak jauh berbeda,”kata Adjie. Wakil Direktur Saiful Mujani Research Centre (SMRC), Sirojuddin Abbas menjelaskan, pihaknya membuka lebar siapa saja yang ingin menggunakan jasa survei yang dilakukan olehnya.

Asalkan kedua pihak mematuhi seluruh aturan perjanjian.
Serta mau membayar jasa mereka secara profesional.
“Ya peneliti juga butuh makan kan? Asalkan dua-duanya bisa paham koridor masing-masing, kami tidak akan masalah,” jelasnya.

Mengenai harga yang dipatok, Sirojuddin mengatakan seluruhnya tergantung dari kondisi daerah yang akan disurvei.
Semoga pilpres 2019 nanti bisa berjalan dengan aman dan damai..((berbagai sumber/tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here