Gresik, Panjinasional.net – Sidang kasus pidana dugaan pemalsuan surat keterangan riwayat tanah dengan terdakwa Fariantono (48) Kepala Desa (kades), Prambangan Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik, Ayuni ( 72 )), suliono ( 55 ) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Gresik Kamis, (19/10/17). Sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim I Putu Mahendra mengagendakan mendengar keterangan saksi yang juga pelapor yaitu Felix Soesanto pengusaha asal Surabaya.

Fariantono diadili, lantaran diduga membuat surat keterangan riwayat tanah yang isinya diduga palsu dengan nomor : 590/11/437.102.02/2015 tanggal (9/12/15).

Kasus yang menyedot perhatian publik itu dikawal Tiga Jaksa Penuntut Umum (JPU) sekaligus dari Kejaksaan Negeri (kejari) Gresik, masing-masing bernama Lila Yurifa Prahasti yang di dampingi oleh Thesar Yudi Prastiya, dan juga Budi Prakoso,namun pihak Penasehat hukum para terdakwa pun hadir dalam persidangan.

Dalam persidangan terlihat Jaksa Penutut Umum (JPU ),sangat serius memperhatikan pertanyaan-pertanyaan para penasehat umum yang dilontarkan kepada saksi (felix soesanto).

Saksi sangat menyayangkan mengapa kepala desa bersedia membuat surat keterangan riwayat tanah tersebut,padahal menurut saksi fariantono pernah membuat surat ketrangan yang isinya mengetahui bahwa tanah itu sudah menjadi mikik saksi dengan adanya SHM atas nama saksi,namun farianto mengatakan surat pernyatàan tersebut sudag dicabut karena tidak adanya persyaratan yang dijanjikan oleh orang suruhan saksi yang saksi juga lupa siapa ?
bahkan saksi mengatakan bahwa surat tersebut tidak bisa dibatalkan,karena saksi tidak mau dibatalkan.

Sidang sempat memanas manakala arifin sh cs( penasehat hukum )para terdakwa menanyakan perihal IJB ( ikatan jual beli ) karena saksi sepertinya ragu-ragu untuk menjawab,malah saksi terlihat beragumen,dan saksi mengatakan lupa kapan ijb dilaksanakan,siapa saja yang hadur saat penandatanganan ijb,hanya yang saksi ingat saat ijb di tanda tangani para pihak penjual dan pembeli,namun saat AJB saksi ingat sekali,ksehingga pertanyaan dilontarkan dengan sedikit nada keras.

Menurut jaka penuntut umum (JPU) perkara ini tidak menyentuh perkara perdata yang bergulir di pengadilan negri (PN ) gresik yang saàt ini keputusan majelis hakim dimenangkan oleh ahli waris,namun demikian majelis hakim tetap meneruskan sidang dan mempersilahkan kembali bertanya kepada penasehat hukum para terdakwa.

Seperti diketahui awal permasalahan adalah kurang bayarnya pembeli (felix soesanto) kepada penjual yakni seluas -+ 9800 M2,sehingga karena merasa masih memiliki tanah sisa itu para ahli waris meminta surat keterangan riwayat tanah kepada kepala desa prambangan fariantono (terdakwa 1),fariantono pun karena melihat leter c desa belum dicoret dan juga keterangan dari ahli waris bahwa 1 bidang tanah seluas 9800m2 belum terbayar,maka dia bersedia membuat surat keterangan riwayat tanah yang dipermasalahkan.

Felix soesanto mengatakan, bahwa sisa tanah tersebut adalah kelebihan tanah yang merupakan hak pembeli sesuai perjanjian di IJB ( 27-11-2012) pasal 4, yang bunyinya antara lain : “Pembayaran sesuai petok D, apabila ada kelebihan atau kekurangan luas maka akan menjadi hak atau milik pembeli ” namun pihak terdakwa ( ahli waris alm kaskan ) mempermasalahkan bahwa felix soesanto tidak membayar sesuai luas petok.

Felix juga mengatakan, bahwa dia membeli secara borongan atau seluruh luas yang ada di petok dengan harga-+7,2 milyard, kembali penasehat hukum terdakwa maju kedepan majelis hakim untuk memperlihatkan bukti IJB pasal 3 yang isinya antara lain : harga ditetapkan sebesar Rp.350.000/permeter × 20.830 m2, jadi harga keseluruhan sebesar Rp.7.290.500.000.

Ahli waris Kaskan cs pernah juga melaporkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya, permasalahan ini dengan maksud untuk membatalkan sertifikat hak milik atas nama felix soesanto, dan dimenangkan oleh ahli waris yaitu pembatalan sertifikat hak milik atas nama felix soesanto, namun dikasasi MA mahkamah agung memutuskan sertifikat hak milik atas nama Felix Soesanto tidak dibatalkan,

Karena itu hak kepemilikan harus diadukan di pengadilan umum (pengadilan negeri gresik), dan sidang putusan sudah dibacakan, intinya dimenangkan oleh ahli waris,” kita tunggu saja dia (felix soesanto ) banding atau tidak “ujar Agus Prasetyo,SH penasehat hukum terdakwa.@Er

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here