PLTU Sluke (Ilustrasi)

REMBANG, Panjinasional.net :
General Manager PT PJB PLTU Sluke Rembang, Uba Edi Susanto menyatakan, operasional perusahaan yang dikelolanya tidak terdampak oleh perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang sedang terjadi saat ini. Padahal sebagian besar peralatan yang digunakan untuk proses produksi pada perusahaan pembangkit listrik tersebut merupakan buatan Tiongkok.

Menurut Edi Susanto, apabila ada dampak dari perang dagang AS dengan China, maka yang akan menentukan kebijakan adalah Pemerintah. Sedangkan hingga saat ini, masih belum ada kebijakan baru yang diterbitkan.

“Ini kan perusahaan milik negara. Kalaupun terkena dampaknya (perang dagang AS-China, red.) kami selaku bawahan patuh pada kebijakan Pemerintah,” ujarnya kepada awak media, kemarin.
Ia mengakui, beberapa waktu lalu pernah terjadi overhaul atau turun mesin, namun tak sampai membuat biaya operasional perusahaan membengkak. Selama ini, PLTU PJB Sluke secara rutin telah mengoperasikan sebanyak 2×315 Megawatt.

Dari opersional tersebut, 2×310 Megawatt telah didistribusikan secara rutin ke Pati dan Kudus tanpa ada hambatan sejak Januari 2018 lalu. Selanjutnya, distribusi jaringan yang dilakukan ke Pati dan Kudus, kembali dibagikan ke beberapa wilayah di Jawa dan Bali. “Pembagian jaringan ke beberapa wilayah di Jawa dan Bali sepenuhnya menjadi kewenangan Kudus dan Pati.

Suplai ke Kudus dan Pati, sejak Januari sampai sekarang tidak ada kendala. Kemarin memang terjadi overhaul, namun sudah teratasi,” terang dia sembari menambahkan, atas capaian tersebut, hingga kini Unit Bisnis Jasa Operation dan Maintenance PLTU Rembang menjadi pembangkit yang menggunakan manufaktur Tiongkok terbaik di Jawa. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here