Surabaya, Panjinasional :
Berkedok ala Koperasi Simpan Pinjam, salah satu usaha yang ditekuni seorang perempuan ber inisial STN (65) warga Karang Rejo Surabaya Dilaporkan Ke Polda Jatim Diduga Telah melakukan Bisnis layaknya Rentenir yang merugikan Orang Lain. (3/7/18 ).

Korban meminta Bantuan kepada wartawan Untuk membantu permasalahan ini, terkait usaha STN yang diduga sebagai rentenir berkedok koperasi simpan-pinjam dan tidak memiliki kejelasan izin, masih beroperasi di Surabaya.

Usaha Simpan Pinjam Ini bisa disebut rentenir berkedok koperasi diduga illegal, diketahui masih melakukan aktifitas simpan pinjam dengan bunga tinggi pada masyarakat, sehingga dikhawatirkan semakin merugikan masyarakat sebagai nasabahnya.

Rentenir berkedok koperasi itu juga merugikan pemerintah daerah. Karena usaha itu illegal, tidak memiliki izin dan diduga tidak pernah terdaftar di Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Surabaya maupun Jawa Timur.

Kepada awak media ini, Seorang warga yang tidak mau disebut namanya mengatakan, Keberadaan STN itu perlu dievaluasi. mendorong Dinas Koperasi dan UMKM Surabaya menertibkan praktik seperti itu.

Hasil pantauan media, praktek rentenir berkedok koperasi simpan pinjam itu menerapkan bunga yang lebih tinggi. Anehnya, koperasi semacam itu tidak mau menjadikan nasabahnya sebagai anggota koperasi.

Berawal dari perkenalan STN dengan STW ( korban ) meminjam Sejumlah Dana Sebesar 35 Juta ke STN dengan jaminan Surat Jual tanah Atau Surat Ijo, Sesaat berjalanya Waktu Korban STW Mau mengambil Surat tersebut Ke STN, namun ibu tua ini Menaikan Bunganya Menjadi 65 Juta Yang tidak sesuai dengan perjanjian Awalnya.

Setelah Korban STW berupaya cari pinjaman Untuk melunasi Pinjaman Sebesar 65 Juta kepada STN, dari Pihak STN Menaikan Lagi Menjadi 98 Juta, melihat Hal Tersebut Korban STW kesal Kemudian Melaporkan STN ke SPKT Polda Jatim, Sebab dia merasa Ditipu Oleh Pihak STN.

Keberadaan koperasi liar simpan pinjam tidak sesuai dengan asas dan prinsip koperasi, sesuai Undang-Undang nomor 25 tahun 1992. Sebab, dalam penetapan suku bunga terbilang sangat tinggi, tanpa ada musyawarah anggota berkisar 25-30 persen..@Bay

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here