Korban-km-sinar-bangun-detik-detik-perjuangan-mereka-raih-pelampung

panjinasional.net :
Pihak kepolisian menerima 189 laporan kehilangan anggota keluarga terkait tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun Polisi yang tenggelam di Danu Toba, Sumatera Utara. Hingga kini sejumlah pihak terkait masih melakukan pencarian terhadap para korban yang tenggelam di perairan tersebut.
KM Sinar Bangun berlayar dari Pelabuhan Simanindo (Samosir) menuju Pelabuhan Tigaras (Simalungun). Setelah 30 menit berlayar, kapal yang tidak dilengkapi manifest penumpang itu dihantam angin kencang dan gelombang tinggi.

Detik detik tenggelamnya KM Sinar Bangun, para penumpang berusaha menyelematkan diri masing masing

Tenggelamnya KM Sinar Bangun mengungkap sejumlah fakta mulai dari kelebihan penumpang hingga cuaca buruk yang melanda kawasan itu. Kriminologi.id merangkum sejumlah fakta tersebut.

1. Kapasitas Kapal KM Sinar Bangun
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengindikasikan Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba karena kelebihan muatan. Menurutnya muatan penumpang KM Sinar Bangun seharusnya hanya 43 penumpang, namun diisi dengan 193 penumpang.
“Kapasitas dari muatan kapal itu adalah kurang lebih 43 orang mustinya. Tapi isinya mencapai sekitar 193 orang. Jadi ini karena kelebihan muatan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di kantornya Kementrian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat perbatasan Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Juni 2018, di ruang video conference.

2. Kapal Dipenuhi Air Sebelum Oleng
Informasi yang dikutip dari akun Twitter @danautoba_idn, menyebutkan, seorang saksi yang selamat menyatakan bahwa KM Sinar Bangun sebelum tenggelam dipenuhi air pada bagian bawahnya.
“Kronogi Kejadian :saksi (korban selamat) menyebutkan bhwa kapal yg mereka tumpangi tlh berlayar sktr 30 menit dari Simanindo menuju Tiga ras. Sesaat sblm kejadian kapal oleng dan tenggelam. Saksi mengatakan bhwa sblm tenggelam, kapal sdh mulai dipenuhi oleh air (pd bagian bawah),” tulis akun tersebut.
Kronogi Kejadian :saksi (korban selamat) menyebutkan bhwa kapal yg mereka tumpangi tlh berlayar sktr 30 menit dari Simanindo menuju Tiga ras.
Sesaat sblm kejadian kapal oleng dan tenggelam. Saksi mengatakan bhwa sblm tenggelam, kapal sdh mulai dipenuhi oleh air (pd bagian bawah)

3. KM Sinar Bangun Dilaporkan Tenggelam Pukul 17.40 WIB
Laporan mengenai tenggelamnya KM Sinar Bangun bermula dari adanya laporan Kepala Pos Perhubungan Danau Toba, Sumatera Utara kepada Kantor SAR Medan terkait informasi tenggelamnya KM Sinar Bangun yang dilaporkan pada pukul 17.40 WIB.
Awalnya petugas menerima laporan tenggelamnya KM Sinar Bangun karena kecelakaan yakni tabrakan dengan kapal kayu. Tenggelamnya KM Sinar Bangun dilaporkan berada pada koordinat perkiraan 02°46’00” N, 098°48′, 00E dengan radius dari Pos SAR Danau Toba ke LKP 270° dengan jarak sekitar 12.3 mil.

4. Cuaca Buruk
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebut telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrim seputar Sumatera Utara, sebelum musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo mengatakan pihaknya sudah mengeluarkan peringatan sebanyak dua kali terkait cuaca buruk.
“Peringatan dini tidak tersentral diberikan dari pusat saja, karena BMKG memiliki 180 UPT di daerah. Kantor Wilayah I BMKG di Sumut sudah mengeluarkan peringatan dini dua kali pukul 11.00 WIB dan 14.00 WIB pada tanggal 18 Juni 2018,” kata Mulyono dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 19 Juni 2018.
Menurut Mulyono, masa berlaku informasi peringatan dini cuaca bisa tiga hingga empat jam sebelum digantikan dengan informasi cuaca yang baru.

5. Tidak Ada Daftar Penumpang (manifest)
KM Sinar Bangun yang ternggelam di perairan Danau Toba Sumatera Utara diketahui tidak memiliki data manifest penumpang. Hal itu menyulitkan pihak kepolisian untuk mendata jumlah korban yang menjadi simpang siur.
“Memang kapal tidak ada manifest, jadi ada beberapa keluarga korban melapor sekitar ada 178 yang merasa kehilangan keluarga,” kata Kepala Bagian Penerangan Satuan, Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Hubungan Masyarakat Divhumas (Kabagpensat Ropenmas Divhumas) Polri Komisaris Besar (Kombes) Yusri Yunus, Rabu, 20 Juni 2018.
Yusri menjelaskan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait adanya tindak pidana terkait tenggelamnya kapal tersebut. Kendati begitu, pihaknya masih fokus pada upaya evakuasi.

6. Nama Nahkoda Tak Terdaftar
Pihak kepolisian yang menyelidiki tenggelamnya KM Sinar Bangun mengungkap bahwa nahkoda tidak berada di kapal saat kapal berbahan kayu tersebut tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara.
Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty mengatakan, nama nahkoda tersebut tidak terdaftar dalam korban yang selamat ataupun korban yang hilang.
“Aneh. Dalam pengungkapan kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, dalam daftar korban yang selamat maupun yang hilang, nama nakhoda tidak ditemukan. Nakhoda sampai saat ini masih berada di darat,” ucap Marudut, Rabu, 20 Juni 2018

KM SINAR BANGUN KAPASITAS 43, TAPI ISINYA 193 ORANG
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba karena kelebihan muatan. Menurutnya muatan penumpang KM Sinar Bangun seharusnya hanya 43 penumpang, namun diisi dengan 193 penumpang.

“Kapasitas dari muatan kapal itu adalah kurang lebih 43 orang mustinya. Tapi isinya mencapai sekitar 193 orang. Jadi ini karena kelebihan muatan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di kantornya Kementrian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat perbatasan Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Juni 2018, di ruang video conference.

Menurut Menhub, selain kelebihan muatan, faktor lain penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun, Senin, 18 Juni 2018, sekira Pukul 17.15 WIB karena faktor cuaca ekstrim di lokasi Danau Toba.
Budi Karya menambahkan cuaca buruk yang mengakibatkan tenggelamnya kapal yang menuju Dermaga Tiga Ras menuju Simanindo, meliputi angin kencang, hujan disertai petir tinggi dan gelombang pasang di danau tekno-vulkanik tersebut.

“Cuaca dalam keadaan hujan deras angin kencang, petir dan tinggi gelombang sampai dua meter. Jadi penyebab juga kecelakaan bisa terjadi,” ucap Mentri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Menurutnya, cuaca buruk masih terjadi di lokasi kejadian, ternasuk kawasan yang sulit dijangkau. Namun proses pencarian terus dilakukan sejak Senin malam dan Selasa kemarin.
Hasilnya, tercatat sudah ada 21 orang yang berhasil diselamatkan oleh tim gabungan Perhubungan yang menerjunkan tim Komisi Nasional Keselamatan Transporasi atau KNKT, Polisi Air, TNI dan Basarnas.

“Sampai hari ini korban yang diselamatkan 21 orang, meninggal 3 orang korban, dari 18 yang selamat sudah kembali ke rumah masing masing. Korban lainnya ratusan sedang dalam pencarian saat ini sedang dilakukan pendataan,” ujar Budi Karya.
Mengingat banyaknya jumlah korban, pihaknya akan melakukan pembagian tiga tim guna menyasar upaya pencarian korban yang nasibnya belum diketahui.

“Satu tim pendaftaran orang hilang yang terindikasi sebagai penumpang. Tim kedua adalah tim pencarian pertolongan dan penanggungjawab Basarnas dan ketiga tim pencari fakta penyebab kecelakaan penyidikan dilakukan oleh KNKT dan Polda Sumatera Utara,” tutur Budi Karya Sumadi.@tim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here