Jakarta : Adanya wacana Koalisi Keumatan, Parpol koalisi pemerintah pada Pilpres 2019 lantang menantang. Sekretaris Jendral (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan, pihaknya merespon positif adanya keinginan pembentukan koalisi keumatan pada Pilpres 2019 mendatang.
“Itukan wajar saja, namanya berkoalisi, bekerja sama, berserikat, dan berkumpul kan dijamin konstitusi. Justru kami mengharapkan (adanya figur lain) karena mulai 4 Agustus itu sudah mulai tahapan Capres dan Wapres,” tutur Hasto kepada indopos, Rabu (6/6) lalu.

Menurut Hasto, koalisi pengusung Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019 sudah terbentuk. Pihaknya, saat ini justru menunggu koalisi keumatan untuk mendeklarasikan diri.
Sejauh ini, partai yang mendukung Jokowi untuk kembali maju antara lain PDIP, NasDem, Hanura, Golkar, Perindo, PPP, PKPI, dan PSI.
“Dukungan Parpol itu kepada Jokowi sudah final. Nah, kami harap koalisi keumatan segera terbentuk dengan Capres yang diusung. Sehingga ada kompetisi sehat dalam menyampaikan gagasan bagi bangsa dan negara,” ulasnya.

Hasto juga berharap, koalisi pasangan lain untuk melawan Jokowi segera terbentuk, supaya persaingan Pilpres 2019 berjalan sehat. “Justru, kami berharap koalisi lain segera terbentuk mengingat koalisi pendukung Pak Jokowi sudah terbentuk dan solid,” tambahnya.

Terkait figur pendamping Jokowi pada Pilpres 2019, akan dibahas Ketua Umum PDIP Megawati dengan Jokowi, dan parpol koalisi. “Nanti, baru kita bahas. Kalau PDIP diserahkan ke ketua umum untuk berdialog dengan presiden dan juga ketua partai lain,” ucapnya.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto juga mengatakan, tidak khawatir dengan gagasan koalisi keumatan. “Tidak ada yang dikhawatirkan,” kata Airlangga Hartarto di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (6/6) lalu.
Kehadiran politikus senior Partai Golkar Fuad Hasan Masyhur dalam pertemuan dengan Rizieq Shihab, Prabowo, dan Amien Rais di Mekkah, menurutnya bukan mewakili partainya. “Dia (Fuad, red) kan pemilik travel tour, jadi sebagai pengatur,” tutur Menteri Perindustrian (Menperin) itu.

Sebab, Fuad tidak menggunakan lambang Partai Golkar dalam pertemuan tersebut. “Namanya juga lagi umrah. Semua pakai ihram,” tegas Airlangga.

Ditambahkan, Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily, manuver yang dilakukan koalisi di luar lingkaran pemerintah itu merupakan hal biasa bagi partai berlambang pohon beringin itu. “Saya kira Golkar tidak khawatir dengan manuver yang dilakukan koalisi di luar pemerintah,” ujar Ace.

Ace menyampaikan, alasan dibalik sikap santai Golkar itu karena yakin saat ini koalisi tersebut belum sampai pada tahap final, terkait siapa capres maupun cawapres yang layak untuk Pilpres 2019. “Karena saya meyakini, diantara mereka belum terbentuk soal siapa Capres dan Cawapresnya,” bilangnya.
Karena itu, dia menilai, masih ada proses cukup panjang terkait strategi politik dari koalisi rival pemerintah itu. Ace yang juga merupakan Wakil Ketua Komisi VIII itu yakin, pilihan dari koalisinya lebih populer, yakni Presiden Jokowi.

“Jadi, masih sangat panjang. Justru kita lebih fame dengan pilihan kami terhadap pak Jokowi,” belanya. Dia menyarankan, agar HRS mengatur strategi politiknya dari Indonesia.
Karena itu, dia mengajak pria yang kini bermukim di Mekkah, Arab Saudi itu untuk segera pulang ke tanah air. Dengan begitu, tidak perlu mengatur strategi dari jarak yang cukup jauh.

“Sebaiknya Habib Rizieq pulang dulu ke Indonesia, ya kan? Lebih bagus kalau beliau mengatur politiknya di Indonesia,” serunya. Dia juga mengaku tidak mempersoalkan pembentukan koalisi yang terdiri dari partai Gerindra, PKS dan PAN itu..@tim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here