Jakarta, Panjinasional :
Mengenal Sosok yang tak asing, dialah putri sulung mendiang Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, yang sudah lama tak terdengar publik, mulai muncul ke khalayak publik.

Tutut selama ini dianggap sebagai didikan Soeharto yang digembleng secara langsung soal politik saat sang ayah masih berkuasa. Dia mendapat pendidikan politik yang lebih intensif dibanding adik-adiknya yang lain.

Di masa lalu, Mbak Tutut selalu berada di dekat sang ayah. Dia pun selalu berperan dalam misi pemenangan Golkar di pemilu-pemilu masa Orde Baru. Dalam pemerintahan, Tutut sempat merasakan duduk di dalam Kabinet Pembangunan VII sebagai Menteri Sosial. Namun, usia jabatannya singkat lantaran kabinet tersebut hanya bertahan dua bulan, yaitu Maret-Mei 1998.

Saat itu, dia harus meninggalkan jabatannya bersama sang ayah akibat derasnya kehendak tuntutan untuk reformasi pemerintahan yang disuarakan mahasiswa.

Tutut sebetulnya sempat terjun ke politik praktis di era reformasi. Dia mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Partai tersebut sempat ikut dalam Pemilu 2004. Saat itu dia menggaet pejabat era Orde Baru, Jenderal (Purnawirawan) R. Hartono. Namun, partainya tidak lolos ke parlemen dan bubar.
Setelah itu, Tutut jarang sekali muncul. Sesekali tampil, tetapi itupun bukan dalam kegiatan politik.

Pengamat politik senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego mengaku pernah berbincang langsung dengan Tutut saat sang ayah masih berkuasa. Indria merupakan seorang yang sempat memberi saran kepada Soeharto saat tuntutan reformasi mengalir deras medio 1998 silam.

Berdasarkan penuturan Indria, Tutut memang ditempa pendidikan politik secara langsung oleh Soeharto.
“Bukan Tommy, bukan Titiek, bukan Bambang. Bukan juga Sigit. Tutut yang paling dibimbing Pak Harto,” kata Indria saat dihubungi cnnindonesia, Kamis (7/6) lalu.

Indria mengatakan Tutut memiliki sikap yang cenderung sama dengan Soeharto. Menurutnya, perangai Tutut selalu nampak tenang, meski dihadapkan pada hal yang cukup serius. Gaya retorika Tutur pun tak berbeda jauh dengan sang ayah.
“Pelan-pelan. Suka menggunakan diksi-diksi Jawa. Enggak dengan nada tinggi juga kalau bicara,” kata Indria.

PENGARUH TUTUT DI PANGGUNG POLITIK MASA KINI
Indria mengakui kedigdayaan Orde Baru telah usai sejak lama. Meski begitu, menurutnya, keluarga Cendana masih memiliki banyak pendukung fanatik. Indria mengatakan hal tersebut berkaca dari fenomena di media sosial yang berkembang saat ini. Dia merujuk kepada slogan ‘piye kabare? Penak jamanku tho?’

“Misalnya, banyak yang rindu Soeharto. Sebetulnya mungkin nampak seperti becandaan ya. Tapi enggak bisa sesimpel begitu juga menilainya,” ujar Indria.

Keluarga Cendana atau Tutut khususnya, kata Indria, masih memiliki pengikut yang cukup banyak. Dan itu bisa dimanfaatkan dalam Pemilu 2019 mendatang. Terlebih, Indria menilai Tutut memiliki modal besar untuk membiayai kegiatan politik.
Akan tetapi, Indria ragu Tutut memiliki pamor yang besar. Misalnya, apabila Tutut mendeklarasikan dukungan kepada Partai Berkarya, belum tentu ikut mendulang suara yang sangat besar. Partai Berkarya dibentuk adik bungsunya, Hutomo Mandala Putra atau kerap dikenal Tommy Soeharto.

“Kalau bicara keuntungan elektoral partai, sulit juga. Harus melihat partainya dulu. Kalau partainya kecil, ya sulit. Kembali lagi kepada popularitas partainya dulu,” ucap Indria.

Indria lalu mengungkit kans Tutut menjadi calon presiden atau calon wakil presiden. Menurut Indria, Tutut sulit mendapat dukungan partai politik untuk maju dalam pilpres 2019. Tentu karena Tutut selama ini tidak memberikan sumbangsih kepada partai politik. Namun, jika Tutut ternyata diusung dalam Pilpres, Indria menilai hal itu bakal menarik.
Indria mengatakan bahwa berkaca dari pemilu di Malaysia yang mana tokoh politik veteran Mahathir Mohamad terpilih sebagai perdana menteri yang baru.

Mahathir, katanya, merupakan orang yang terbilang sukses dalam politik di masa lalu. Mahathir juga sempat berguru kepada Soeharto.

Banyak yang menganggap tokoh veteran sekelas Mahathir tak bakal laku karena perkembangan zaman. Namun, fakta menyatakan sebaliknya. Mahathir menang pemilu dan kembali duduk di kursi perdana menteri Malaysia.
Menurut Indria, fenomena politik di Malaysia bisa saja terjadi di Indonesia, bilamana ada tokoh lama yang dianggap menjadi perlambang penyelamat negara muncul.

“Akan menarik. Generasi milenial juga kan tidak terlalu tahu bagaimana Orde Baru berkuasa dulu,” katanya..@Bimo.W/cnnindonesia/gtt

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here