BLITAR –PANJINASIONAL:
Seorang siswi SMP EPA (16) di kos-kosannya pada Selasa (29/5/2018) di jalan Ahmad Yani, Kota Blitar dikenal sebagai anak yang cerdas di sekolah.
Hal demikian diungkapkan pihak sekolah di mana korban bersekolah yakni di SMPN 1 Kota Blitar pada Rabu (30/5/2018).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Kota Blitar, Katmadi, menjelaskan kalau EPA adalah salah satu siswi berprestasi di sekolah.
Dikatakan korban bahkan tergabung di tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMPN 1 Kota Blitar. Bahkan korban pernah menyabet kejuaraan OSN ini di bidang Matematika.

Selain itu siswa ini dikenal sebagai siswa yang baik disekolah, ramah dan mempunyai banyak teman.
“Anaknya baik terbukti dengan temannya yang banyak. Seperti kemarin di persemayaman jenazah di Paramita dari malam hingga sekarang banyak teman-temannya di sini yang menunggu di sana,” ucapnya.

Hanya saja waktu ujian nasional nilai ujiannya agak turun dibanding nilai yang biasa korban dapat. Sebab selama ini korban selalu mendapat ranking di sekitaran 3 besar di kelas dengan rata-rata diatas sembilan.
“Nilai ujian nasinalnya agak turun. Meski demikian sebenarnya masih bagus danemnya saja 359 kalau dirata-rata itu sudah sembilan jadi dia takut tidak masuk SMA yang dia tuju,” ungkapnya.

Sementara kalau korban rumah domisilinya berada di kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Sedang SMA yang korban ingin mendaftar yakni di SMA 1 Kota Blitar yang tentunya berada di luar zona dalam sistem penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi daerah.
“Kan kena zona to mas. Jadi siswa ini jadi takut kalau tidak diterima di SMA 1 karena di luar zona. Kan sistemnya kalau di luar zona diberi kuota lima persen saja untuk bersaing dengan siswa lain yang diranking danemnya,” terangnya.

Disamping itu dia mengungkapkan kalau korban ini merupakan tiga bersaudara dan anak bungsu. Sedang kakak kakaknya semua bersekolah di SMAN 1 Kota Blitar.
“Ya mungkin ingin seperti kakak kakaknya yang dulu. Kakak pertamanya dulu SMA 1 dan masuk kedokteran di UB dan kakaknya kedua baru saja lulus SMA 1. Tapi masalahnya dulu tidak ada sistem zonasi seperti ini,” ujarnya.

Dia menerangkan sebenarnya sekolah sudah memberi bimbingan kalau semua sekolah SMA sama saja kualitasnya. Dan yang menentukan masa depan adalah siswa itu sendiri.
“Kita sudah memberi tahu kalau jangan terpaku pada sekolah favorit sebab siswa kita tahun lalu yang denemnya tertinggi malah mendaftar ke sekolah SMK malah dia kini kuliah di bidang desainer dan kini sudah go internasional,” katanya.

Sedang sekolah juga kaget dengan hal itu. Sebab terakhir kali korban kesekolah pada Senin (28/5/2018) terlihat biasa saja tidak ada hal mencurigakan.
“Senin kemarin mengambil SKHU ke sekolah biasa saja. Tiba-tiba selasanya kejadian seperti ini kita juga kaget mesti ada hal lain diluar masalah nilai danem. Karena siswi ini tergolong siswa cerdas,”pungkasnya. (Dwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here