Kegiatan Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Kab Madiun 2018

Panjinasional.Madiun.
Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Kab Madiun telah menggelar serangkaian kegiatan penilaian lomba desa dari tingkat kecamatan sampai dengan tingkat Kab Madiun.Penilaian, lomba desa tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana di tahun ini penilaian dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu :

Tahapan seleksi administrasi dan Tahapan penilaian klarifikasi lapang dan presentasi.Untuk Tim Penilai Lomba Desa ini dilakukan oleh Tim Independen yang terdiri dari unsur sarjana, Polri dll .dan Tim Independen dibawah kendali Dinas DPMPD yang diketuai oleh Kadin Joko Lelono,AP.MH dibantu Kabid PPKM Kushendra bersama tim.

Kedatangan Tim Penilai Lomba Desa ini disambut dengan kesenian Seni Reyog Ponorogo dan Seni Karawitan Tim TP PKK Desa secara meriah. Dalam acara pelaksanaan penilaian, tim penilai disambut meriah dengan pemberian kalungan bunga sebagai tanda kehormatan kepada Kadin Joko Lelono,AP.MH selaku Ketua Tim Penilai Tingkat Kab Madiun.

Dalam sambutan singkatnya,Camat Dolopo Mashudi,S Sos.MSi mengatakan, bahwa pihaknya merasa bangga atas terpilihnya Desa Bader Kec Dolopo Kab Madiun menjadi salah satu pemenang lomba tingkat kecamatan dan yang saat ini masuk nominasi pemenang lomba tingkat kabupaten.
Menurutnya,Desa Bader Kec Dolopo Kab Madiun pernah masuk nominasi 5 besar pemenang lomba TP PKK Tingkat Kabupaten Madiun.

Desa Bader ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk digali dan dikembangkan.Meskipun diakui masih banyak kekurangnya,pihaknya terus memberikan dukungan untuk terus berupaya maju dan menjadi yang terbaik.
“Apapun lomba yang ada, kita tetap semangat dan berupaya promosi yang terbaik”,tegas Camat Mashudi,S.Sos.MSi.

Selanjutnya Kadin Joko Lelono,AP.MH selaku Ketua Tim Penilai Lomba Tingkat Kabupaten mengatakan bahwa penilaian lomba desa untuk Desa Bader Kec Dolopo Kab Madiun ini adalah evaluasi rangkaian kegiatan penilaian lomba tahap akhir dari 5 desa yang ada yaitu:Desa Buduran(Wonoasri), Desa Kepel(Kare),Desa Mendak(Dagangan),Desa Wayut(Jiwan) dan terakhir Desa Bader (Dolopo).

“Hari ini adalah penilaian terakhir Tim dan harus jadi yang terbaik dan harus siap maju ke tingkat propinsi”,tegas Kadin Joko Lelono,AP.MH dengan penuh harap didepan peserta lomba desa.

Dalam sambutannya Kadin Joko Lelono,AP.MH mengatakan bahwa saat ini sesuai Permendagri No 81 Tentang Evaluasi,untuk Kab Madiun sudah menggunakan sistem Aplikasi EPDESKEL yang bisa memonitor perkembangan desa dan kelurahan yang ada.Sehingga dengan pemberlakuan aplikasi ini, maka untuk penilaian lomba desa ini melalui tahapan seleksi administrasi.

“Desa harus punya prestasi dan keunggulan.Desa harus punya kualitas.Karena Kabupaten Madiun ini sudah sering menjadi tempat rujukan study banding daerah lain,”ungkap Kadin Joko Lelono,AP.MH.
Lebih lanjut Kadin Joko Lelono,AP.MH mengatakan, bahwa pemenang lomba desa ini akan mendapatkan hadiah uang senilai 100 juta. Untuk menjadi berhasil tidak terlepas dari kekompakan dengan unsur lembaga desa yang ada untuk menjaga kondusifitas.Dan dengan kebersamaan, semua dapat teratasi semua masalah.Menyinggung perkembangan jaman saat ini,

saat ini adalah era IT dan bukan manual.Karena itu desa harus mempunyai tenaga IT/operator yang handal dan terlatih.Dan operator IT memegang peranan penting dalam pembuatan laporan dengan aplikasi yang saat ini sudah diterapkan di Kab Madiun seperti Seskeudes dan EPDESKEL.
Terkait dengan Tata Kelola Keuangan dan Administrasi Desa, Kadin Joko Lelono AP.MH menyampaikan, bahwa saat ini sedang diberlakukan sistem E yaitu E-Budgeting,E-Pelaporan,E-Pedeskel dan E- Planing.

Pada sambutan terakhirnya,Kadin DPMPD mengatakan bahwa untuk porsi program pemberdayaan Desa Bader masih kurang. program yang dimaksud harus langsung bersentuhan dengan masyarakat dan untuk kesejaheraan masyarakat.

Untuk program DD, harus dilaksanakan untuk kesejahteraan masyarakat,.Karena program DD ini arahnya nanti akan menjadi desa mandiri.BUMDES merupakan motor penggerak desa tetapi memerlukan support dari pihak lembaga desa seperti BPD dan LKMD untuk menggali dan mengembangkan potensi desa yang ada.Semisal seperti pengelolaan program HIPPA sebagai PDAM nya desa,

Dalam hal tersebut, bila dikelola dengan baik dan maksimal maka akan menjadikan desa kaya, seraya memberikan contoh daerah Kalimantan ketika melakukan study banding disana.

Di Kalimantan dengan pengelolaan HIPPA yang baik dan profesional untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari yang disalurkan langsung ke masyarakat ternyata dapat menghasilkan profit/keuntungan, PADes 4 milyar rupiah per tahun.Sehingga daerah ini menjadi kaya raya saat ini.(Suwarti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here