Panjinasional.net :
Sekitaran pukul 12.03 pada 9 Agustus 2014 lalu, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Michael Brown, tewas ditembak aparat kepolisian bernama Darren Wilson di Ferguson, Missouri, Amerika Serikat. Brown, bukanlah kriminal ataupun teroris yang jadi incaran polisi. Ia merupakan seorang warga AS biasa sebagai Afro-Amerika.

Saat kejadian, polisi menodongkan pistol pada Brown, pemuda tersebut sesungguhnya sudah menyerah. “Jangan tembak!” kata Brown sambil mengangkat dua tangan. Nahas, Wilson sang polisi sudah telanjur melepas timah panas.

Usai kejadian itu publik AS dibuat marah. Warga yang kebetulan melihat kebrutalan polisi, membagikan pengalaman mereka melalui media sosial. Kesaksian berikut bukti foto dan video bertebaran. #Ferguson, hashtag yang menandai perbincangan atas tingkah polisi terhadap warga terus mencuat. Dalam sepekan, 3,6 juta posting tanda pagar (tagar) #Ferguson menggema di Twitter. Di akhir Agustus 2017, tercatat ada 8 juta hashtag #Ferguson.

Hashtag alias pound sign alias tanda pagar merupakan salah satu fitur yang dimiliki Twitter, yang dirilis pada Agustus 2007. Ia digunakan untuk memudahkan para pengguna Twitter mengikuti suatu perbincangan dengan tema tertentu.

Yarimar Bonilla, dalam papernya berjudul “#Ferguson: Digital Protest, Hashtag Ethnohraphy, and the Racial Politics of Social Media in the United States” mengatakan bahwa hashtag memiliki fungsi clerical. Ia memungkinkan pengurutan dan pengambilan informasi tentang suatu topik tertentu dengan cepat. Misalnya, dalam kasus Ferguson, rincian kematian Michael Brown yang diunggah oleh para pengguna Twitter akan muncul ketika hashtag #Ferguson diklik.

Meskipun bertujuan sebagai sebuah penanda, hashtag telah melangkah lebih jauh, terutama dalam konteks sosial politik. Lexi Pandel, kolumnis Wired, mengatakan hashtag telah berevolusi lebih dari hanya sebatas simbol digital dunia maya. Hashtag, sukses memengaruhi pemilihan umum hingga memicu gerakan sosial.

Kesuksesan hashtag bertransformasi dari simbol digital menuju penggerak sosial dimulai sejak tanda tersebut lahir di Twitter. Kebakaran hebat yang melanda San Diego County, AS di musim gugur 2007 jadi salah satu titik awal kekuatan hashtag. Kala itu, dengan hanya bermodal “#sandiegofire,” para pengguna Twitter ramai-ramai memantau serta memberi informasi terbaru terkait bencana tersebut. Ada kesigapan, kesiapan, dan rasa saling berbagi dengan kehadiran hashtag tersebut.

Chris Messina, advokat spesialis di bidang open source, yang merupakan sosok pencetus ide hashtag di Twitter, yang mengatakan pada The New York Times simbol hashtag merupakan “jalan paling kuat untuk berpartisipasi di media sosial.”

Sebagai simbol digital, hashtag merupakan sesuatu yang “kuat dan diperlukan.” Terutama untuk membangkitkan kesadaran bersama. Salah satu contoh hashtag yang dianggap mewakili apa yang diucapkan Messina ialah #blacklivesmatter, suatu sikap yang menyatakan bahwa warga kulit hitam pun sudah sewajibnya memperoleh perlakuan yang sama dengan warga kulit putih.

Apa yang diungkap Messina senada dengan Paolo Gerbaudo dalam bukunya berjudul “Tweet and the Streets.” Ia menyebut bahwa hashtag merupakan cara paling efektif untuk menggerakkan emosi bersama atas suatu percakapan di twitter. Hashtag merupakan jembatan yang menghubungkan rasa solidaritas aksi jalanan dengan pendukung gerakan itu di dunia maya.

Yarimar Bonilla, masih dalam papernya, mengatakan bahwa alasan mengapa hashtag, dan media sosial secara umum, menjadi alat yang dapat menggerakkan kelompok karena kini mayoritas orang menggenggam ponsel. Ini menjadikan kelompok-kelompok marginal dan minoritas yang tadinya hanya bisa diam ketika diusik, kini melakukan perlawanan balik via media sosial.

Hashtag, sebagai penggerak, merupakan kelanjutan apa yang disebut Gerbaudo sebagai free culture, budaya yang diprakarsai oleh peretas, advokat di bidang open source, dan aktivis internet, sebagai wadah baru kegiatan aktivis. Hashgat, ataupun Twitter, merupakan kelanjutan media-media lawas seperti koran, poster, atau pamflet, yang digunakan untuk melakukan pergerakkan.

Pada 2017, tercatat ada 125 juta hashtag yang digunakan setiap harinya. Di 2018, salah satu hashtag yang ramai dalam konteks sikap sebuah kelompok adalah #DiaSibukKerja dan #2019gantipresiden. Hashtag yang merepresentasikan perbedaan dukungan, antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Di dunia nyata, gesekan antara dua kelompok yang berbeda bisa terjadi karena gagasan dari sebuah hashtag yang berubah menjadi simbol dari sikap. Sekelompok orang berkaos #2019GantiPresiden melakukan tindakan intimidasi terhadap beberapa orang di kawasan Car Free Day (CFD), Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, sekitar pukul 9.15, Minggu (29/4). Kejadian yang banyak menjadi sorotan ini menggambarkan hashtag telah jadi simbol jargon-jargon politik pada kaos.

Di ranah maya, melalui Tweet Reach, layanan analisis Twitter, terjadi pertarungan yang berimbang antara dua hashtag tersebut. Pada 30 April 2018 antara pukul 7.30 hingga 8.00, hashtag #DiaSibukKerja telah menyebar pada 93.644 akun Twitter, hashtag tersebut sudah dilihat 122.771 kali. Sementara itu, #2019gantipresiden, diukur dengan kerangka waktu yang sama, telah menjangkau 96.054 akun Twitter. #2019gantipresiden tercatat sudah dilihat 114.917 kali.

Kedua hashtag tersebut hampir memiliki nilai keterjangkauan yang sama. Namun, dilihat melalui Tweet Reach keduanya memiliki pondasi yang berbeda. Hashtag #DiaSibukKerja mayoritas, dengan persentase sebanyak 49 persen, dikicaukan oleh akun-akun Twitter yang memiliki jumlah pengikut kurang dari 1.000. Sementara itu, hashtag #2019gantipresiden secara umum lebih banyak, dengan persentase sebesar 42 persen, dikicaukan oleh akun-akun yang memiliki pengikut kurang dari 100.

Gerbaudo, masih dalam bukunya, mengatakan bahwa tak selamanya hashtag, berkorelasi dengan gerakan sosial. Perlu sesuatu yang mengarah pada keberpihakan dan spontanitas yang umumnya akan menuntun simbol digital jadi sikap di dunia nyata.

Kemunculan #
Chris Messina, advokat spesialis di bidang open source, merupakan sosok pencetus ide hashtag pada Twitter. Messina, dalam wawancaranya pada Wired, mengatakan bahwa tercetusnya ide hashtag salah satunya dipengaruhi oleh banyaknya pengguna Twitter di San Fransisco yang merasa bingung bagaimana mengikuti suatu kisah dengan tema tertentu di media sosial tersebut.

“Kala itu tidak ada cara mengatur tweet yang memungkinkan penggunanya tahu apa yang harus diperhatikan dan apa yang harus diabaikan,” kata Messina.

Stowe Boyd, rekan Messina yang terlibat dalam penciptaan hashtag pada Twitter, mengatakan bahwa secara tersirat tanda pagar tersebut bukanlah ide orisinal Messina atau Twitter. Melainkan ide yang terinspirasi dari penggunaan simbol yang sama yang digunakan IRC alias Internet Relay Chat.

“Orientasi Messina menggunakan hashtag datang dari ruang obrolan bernama IRC,” kata Boyd menerangkan.

IRC merupakan sistem perpesanan yang hadir di awal-awal keberadaan internet. IRC merupakan pengguna pertama simbol # di dunia maya, yang digunakan untuk membuka kanal atau ruang percakapan. Semisal #Bandung yang merupakan kanal percakapan warga Bandung via IRC ataupun #London sebagai kanal percakapan warga London.

Namun, jauh sebelum IRC menggunakan simbol itu di dunia maya, hashtag telah eksis lebih dahulu. Pada 1960-an, Bell Laboratories, menambahkan tanda (*) dan (#) pada tuts (keyboard) telepon. Tanda # alias hashtag saat itu, dinamai seorang karyawan Bell bernama Don McPherson sebagai “octothorpe.” Tanda tersebut biasanya digunakan untuk melakukan panggilan baru ketika panggilan lama masih menyala.

Kini masyarakat nampaknya tidak lagi mengenal istilah octothorpe, simbol tersebut telah melangkah jauh. Bukan hanya penanda percakapan, melainkan pula menjadi penanda sikap politik tak hanya di dunia maya tapi juga di dunia nyata..@tirto,id/red/gtt

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here