foto : Suparto Wijoyo
Pakar Lingkungan Suparto Wijoyo

Gresik – Banyaknya perusahaan galian C di kabupaten Gresik yang meninggalkan kubangan setelah melakukan penggalian menjadi sorotan aktifis dan pakar lingkungan yang juga merupakan pakar Hukum serta Guru Besar Pasca Sarjana Unair. Prof. Suparto Wijoyo, selasa, (1/5/2018)

Suparto melihat bekas tambang galian C yang dibiarkan dan tidak dilakukan reklamasi dengan semestinya dan menyebabkan kematian adalah “pembunuhan” hal itu telah diatur didalam Undang- undang 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Suparto juga mendesak agar Polisi menindak dan memproses pengusaha tambang yang nakal, yang melakukan kejahatan ekologis. Sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan juga kematian seseorang.

“Saya mendorong kepolisian Gresik memproses secara komprehensif bagian dari kejahatan ecologis. Karena galian yang menyebabkan kematian adalah ‘pembunuhan’. Kerusakan lingkunganya sendiri, pembunuhanya sendiri,” kata pakar hukum lingkungan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Suparto Wijoyo, melalui ponselnya, Minggu (1/5).

Masih kata Prof Suparto Wijoyo, Kerusakan lingkungan yang menyebabkan matinya seseorang adalah bagian dari tindak pidana. Karenanya kepolisian Gresik harus memproses secara terpisah. Pemiliknya (kubangan pasca tambang) harus diproses hukum, karena termasuk pembunuhan.

Untuk itu pemerintah Kabupaten Gresik agar memberikan sanksi administratif dan pengawasan terhadap penggali-penggali yang tidak melaksanakan reklamasi.

“Orang mati dalam wilayah pertambangan jangan dianggap takdir. Tetapi itu adalah kejahatan karena tidak adanya reklamsi pasca tambang. Untuk itu Polisinya harus mengusut secara detil terkait matinya orang dalam pertambangan yang tidak adanya reklamasi,” tutur pria kelahiran Lamongan ini.

Hasil pantauan dilapangan, kubangan bekas tambang tersebut diduga milik anak seorang pejabat tinggi dilingkungan pemkab Gresik. Namun pemilik bekas tambang yang berubah jadi kubangan maut ini saat dikonfirmasi melalui ponselnya tidak merespon.

Hasil pelacakan SurabayaPost.id ke sejumlah teman dekat pemilik bekas tambang yang anak pejabat tersebut memiliki nama berinisial BG. Hingga berita ini diturunkan belum memberikan konfirmasi. Saat dikonfirmasi melalui WhatSapp hanya dibaca namun tidak memberikan klarifikasi benar tidaknya bekas tambang tersebut adalah miliknya. (*/shol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here