Andriyatna, Mantan Ketua Umum BPL HMI Jakarta Pusat-Utara 2014-2015

Oleh : Andriyatno
Perjalanan sejarah, dedikasi, dan kontribusi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk bangsa dan Negara ini sudah tidak dapat lagi terhitung, pasalnya sejak berdirinya HMI pada tanggal 5 Februari 1947, HMI menjadi garda terdepan bagi bangsa dan Negara ini, terhitung dalam tinta emas sejarahnya, HMI memiliki dua missi untuk bangsa dan Negara ini, yakni missi Ke-indonesiaan dan juga missi Ke-islaman. Dan dari kedua missi itulah pada akhirnya menjadi latar belakang HMI berdiri, yakni, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, serta mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia, dan mensyiarkan ajaran islam.

Berbagai gerakan nasional, perubahan politik, krisis sosial, dan pembaharuan pemikiran dinegeri tercinta ini, dari sejak lengsernya presiden Soekarno, dan berjayanya orde baru, HMI selalu berada didalamnya dan memainkan kartunya (Sitompul : 2002).
Diawal mulanya HMI berdiri, HMI ikut turut bekontribusi didalam mempertahankan NKRI, dan turut melakukan perlawanan terhadap para penjajah, serta komunis yang dipelopori oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), lalu pada masa orde lama, ikut turut serta menumbangkan rezim orde lama yang telah terjebak dalam kungkungan politik PKI pada saat itu, dan menurunkan orde baru yang semakin diktator.

Kongres Dan Kemunduran HMI
Sebentar lagi akan dilangsungkan kongres HMI ke XXX dikota Ambon, Maluku, yang akan dilaksanakan pada tanggal 14-21 Februari 2018 mendatang. Kongres merupakan forum tertinggi dalam HMI, sebagaimana yang termaktub dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) HMI hasil kongres XXIX Pekanbaru, pada Bab II pasal 11 point 2. Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa didalam kongres segala macam keputusan akan hadir, dan yang paling terpenting dan esensial dari kongres adalah pemilihan Ketua Umum baru (formateur) Pengurus Besar (PB) HMI.

Dalam kongres beberapa tahun belakangan ini, rekomendasi cabang tidak lebih sebagai komoditas politik yang laris dijual (marketable) untuk bisa lenggang kearena kongres. Dan diperparah oleh adanya rumusan dimensi politik yakni ‘siapa mendapat apa’ (who gets what) sebagai sesuatu yang sudah ‘taken for granted’, serta masih banyak cara-cara kotor lainnya yang dilakukan oleh setiap para kandidat guna memuluskan jalannya agar terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI disetiap perhelatan kongres HMI.

Pada akhirnya, akan mengakibatkan persaingan yang tidak sehat, dan akan menimbulkan saling kecurigaan (suspicious), dan bahkan ada yang merasa terancam (threatened). Praktek seperti inilah yang pada akhirnya membawa HMI menuju pada ‘pragmantisme kekuasaan’ dan berujung pada kemunduran.

Francouis Chaubet, seorang pakar sejarah kebudayaan internasional menyebutnya sebagai ‘hiperkonsumerisme’, ia mengatakan “Mondialisme-globalisasi yang cepat, mempersempit ruang, sehingga memaksa kita untuk berkonsumsi, meningkatkan kebutuhan, serta menyetir para warga disuatu Negara dunia ketiga”. Sehingga hiperkonsumerisme ini menuntun manusia lupa akan dirinya, dan pada akhirnya lahirlah penyakit ‘pragmatis’ yang berbasis pada ‘individualis’ (A. Rosyid, 2016 : 415).

Menemukan Jalan Baru HMI
Sudah puluhan tahun HMI tertidur pulas, dan saatnya bangun untuk ‘menemukan jalan baru’, agar terciptnya suatu sejarah dan peradaban baru dalam himpunan ini. Dan sudah saatnya bahwa kongres di Ambon, dan ditahun yang akan datang harus menampilkan wajah baru, yang bukan berbasis pada kuantitas semata, melainkan berdasarkan pada kualitas setiap para kandidat (individual capacity), sehingga kongres bukan lagi tempat untuk saling memperjual belikan suara berupa rekomendasi, dan menang karena luasnya jaringan (networking) yang mendukungnya.

Namun kedepan, kongres harus menampilkan format dan konsep yang baru dan memberikan forum tersendiri bagi para kandidat, dengan melakukan debat kandidat yang dilakukan oleh Pengurus Besar (PB) HMI, tes bahasa asing, status jenjang pendidikan, kesalehan spiritual, dan penyerahan hasil karya ilmiah dari para kandidat, sehingga tolak ukurnya bukan hanya berbasis pada kuantitas semata, namun juga kualitas yang dimiliki para kandidat.

Dengan melihat fenomena perkembangan dunia saat ini, sudah seharusnya HMI menemukan jalan baru, karena perkembangan zaman sudah tidak dapat lagi dibendung, dan mau tidak mau harus ada upaya serius untuk mentransformasikan HMI kearah yang lebih modern. Tantangan HMI didepan mata saat ini adalah, Globalisasi, Modernisasi, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Bonus Demografi, dan yang terbaru adalah tantangan Millenial. Yang kesemuanya itu merujuk dan mengharuskan para kader-kader HMI untuk mempunyai kualitas dan kreatifitas yang mumpuni dalam hal teknologi, informasi, dan komunikasi.

Oleh sebab itu dalam kongres HMI ke-XXX di Ambon, Maluku, mendatang, dalam pembahasannya harus menyangkut tentang perubahan zaman, modernisasi, globalisasi, dan millenialisasi, lalu mencari solusi yang konkrit untuk semua itu. Setidaknya untuk menemukan jalan barunya, HMI harus membuat desain besar (grand design) hingga masa yang akan datang, sebagai upaya merespon tantangan zaman. Maka upaya yang harus dilakukan HMI kedepan guna menemukan jalan baru itu adalah:
1). Penguatan NDP sebagai ideologi perjuangan,
2). Azas islam dari tekstual menuju substansial,
3). Revitalisasi perkaderan HMI, menuju basis teknologi dan digital,
4). Restorasi basis HMI, dari teori menuju implementasi,
5). Pemberdayaan dan penguatan fungsi LPP sebagai lokomotif perjuangan HMI,
6). Pelatihan keterampilan, minat, dan bakat terhadap para kader-kader HMI,
7). Penumbuhan jiwa wirausaha (entrepreneur) didalam setiap diri para kader HMI. Yang kesemuanya itu nantinya bermuara pada prospek untuk membangun Umat, Bangsa, dan Negara..***

BIOGRAFI PENULIS
Nama : Andriyatno
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 30 April 1992
Jenis kelamin : Laki-Laki
Status : Lajang
Kewarganegaraan : Indonesia
Pendidikan : S1 Universitas Bung Karno (FISIP 2010)
Hoby : Membaca dan Menulis
Motto : Dari Literasi Menuju Revolusi
No. Telpon : 088213459602

Pengalaman Organisasi :
1. Ketua Bidang Komunikasi BEM FISIP UBK 2011-2012
2. Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara 2014-2015
3. Ketua Bidang Keagamaan Generasi Muda (GM) PEKAT 2017-2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here