Panjinasional – Surabaya,
Rupanya perjuangan Salim Himawan Saputra untuk mencari keadilan terjawab sudah. Sidang yang beragendakan pembacaan putusan yang di bacakan ketua Majelis Hakim Dedi Fardiman,SH,Mhum rupanya tak senada dan se irama dengan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum Chalida SH.

Dalam amar putusannya ketua Majelis Hakim menjatuhkan vonis bebas terhadap terdakwa Salim Himawan Saputra, yang di laporkan Elizabeth Kaverya.

Tuduhan Elizabet Kaverya akhirnya tidak terbukti melakukan tindak pidana penipuan, seperti yang di dakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum Chalida,SH dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Surabaya.

Perkara ini dinyatakan oleh Ketua Màjelis Hakim bukanlah perkara pidana melainkan perkara perdata, dan di sampaikan pula nama baik terdakwa akan di pulihkan dari segala tuduhan dàn fitnah terkait penipuan dan pengelapan.

Setelah mendengarkan pembacaan vonis ketua Majelis Hakim, terdakwa bisa bernafas lega.

Perlu di ketahui, perkara ini merupakan perkara yang patut diduga dipaksakan, karena Lenny Anggraeni,SE membuat cerita Fiktif, seolah-olah bahwa Elizabeth Kaverya,SH, yang menjadi korban Penipuan dan Penggelapan sesuai pasal 378 jo 372 Kuhp.

Padahal faktanya, kasus ini merupakan perkara hutang piutang antara Terdakwa dengan Lenny Anggreini,SE dan tidak ada perjanjian kerjasama alat berat.

Berdasarkan fakta persidangan saat pertemuan hutang piutang tersebut bahkan tidak ada saksi, Elizabeth Karverya sendiri yang hadir menjadi saksi.

Terdakwa mengetahui Elizabeth bekerja sebagai karyawan di kantor milik Leny Anggreini di Jln Manyar Tirtomoyo Surabaya, sehingga tidak mungkin Terdakwa menjanjikan kerjasama kepada Elizabeth Kaverya,SH mengingat kemampuan finansial Elizabeth Kaverya jauh dibawah Terdakwa.

Pada saat itu terdakwa memang pernah Pinjam ke Leny Anggreini dan berjanji akan mengembalikan pada bulan Desember 2016 setelah ada termin pembayaran proyek.

bahkan terdakwa sudah mengembalikan pinjaman sebesar Rp 350 juta dengan menunjukan bukti Transfernya kepada Leny Anggreini.

Secara Analisis yuridis, kami sangat prihatin atas Perkara Aquo karena sungguh ironis sekali Substansi permasalahan terdakwa dipaksakan menjadi dakwaan kriminal, padahal terkait perkara ini juga menjadi sengketa perkara perdata di pengadilan Negeri Surabaya, perihal Gugatan Melawan Hukum.

Dimana Salim Himawan Saputra pada awalnya menggugat Leny Anggreini secara perdata dikarenakan Leny Anggreini tidak mau menyelesaikan perhitungan keuangan dengan Salim Himawan, sesuai dengan Gugatan nomer 668/Pdt.G/2017/PN.Sby yang sampai saat ini dalàm tahap pembuktian.

Leny Anggreini kemudian malah melaporkan Salim ke Polrestabes Surabaya, dan melalui Elizabeth Kaverya,SH membuat cerita seolah-olah Salim telah menjanjikan kerjasama alat berat.

Selanjutnya Salim melaporkan balik Lenny Angreini,SE ke Polda Jatim sesuai dengan bukti Lapor Polisi: TBL/178/II/2017/UM/JATIM, pada tangal 7 Februari 2017 dengan Tindak Pidana pasal 263 KUHP terkait Tindak Pidana Pemalsuan surat tagihan dan ke Polsek Gubeng sesuai dengan Laporan Polisi Nomor: LP/240/B/IX/2017/JATIM/RESTABES SBY/SEK GBG pada tanggal 19 September 2017, terkait Tindak Pidana Penipuan dan/atau Penggelapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 372 dan/atau Pasal 378 KUHP.

Melalui proses penyelidikan dan penyidikan, selanjutnya Leny Anggreini, SE dijadikan tersangka. Namun kemudian Leny mengajukan Praperadilan terhadap status tersangka yang dikeluarkan oleh Polsek Gubeng.

Pada akhirnya Gugatan Praperadilan yang diajukan oleh Kuasa Hukum Leny, nomer: 55/Praper /2017, ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya, sehingga Leny Anggreini, dinyatakan Sah sebagai Tersangka.

Karena Leny tidak kooperatif dalam proses penyidikan perkara tersebut, maka terbitlah Surat DPO yang dikeluarkan Oleh Polsek Gubeng dengan Nomer DPO /R/16/XII/2017/Reskim tertanggal 26 Desember 1017.(RM)

Lenny muncul di PN Surabaya. Kendati sudah dinyatakan berstatus tersangka dugaan penipuan dan penggelapan uang senilai Rp 500 Juta dan dinyatakan dicari oleh polisi DPO /R/16/XII/2017/Reskim, ternyata Lenny Anggraini tetap bisa berkeliaran ke Pengadilan Negeri Surabaya.
Tersangka Lenny Anggraeni sempat terlacak ada di lantai 2 gedung Pengadilan Negeri Surabaya untuk melakukan legalisir. Namun Lenny mengelak saat ditanyai awak media soal status DPOnya
“Siapa yang DPO,.? Kalau saya DPO tolong telepon polisi untuk menangkap saya,” ucap Lenny singkat sambil bergegas pulang. Selasa (30/1/2018) lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here