Panjinasional-Blitar.
Sungai Bogel di Kecamatan Sutojayan dipastikan segera dimulai. Normalisasi sungai yang menjadi penyebab utama banjir tahunan di Kecamatan Sutojayan itu menghabiskan anggaran sebesar Rp 180 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Dua bulan pasca sosialisasi normalisasi langsung dimulai.

“Proyek normalisasi itu dilakukan Multi Years selama tiga tahun. Ditargetkan normalisasi selesai Desember 2019.

“Normalisasi sudah diprogramkan dengan anggaran sebesar Rp 180 miliar dari APBN,” ungkap Fauzi Idris kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jawa Timur, saat sosialisasi normalisasi kali Bogel di Blitar, Rabu (7/2).
Menurut dia, proyek normalisasi tersebut tidak serta merta akan meniadakan banjir. Namun dengan normalisasi, diharapkan aliran sungai dari sungai Gesing yang menjadi hulu kali Bogel kembali lancar.

“Karena selama ini kondisi sungai Gesing mengalami penyempitan cukup parah sehingga menyebabkan banjir, karena air tidak lancar menuju Brantas. “Kita normalisasi agar keadalam dan lebar sungai kembali normal. Sehingga aliran air menuju ke Brantas lancar. Selain itu kita beri plengsengan agar tidak longsor,” jelasnya.
Dampak dari normalisasi itu, sebanyak lima jembatan harus direhab. Rehab jembatab itu menjadi tanggung jawab Pemkab Blitar. Setidaknya ada lima jembatan yang harus direhap.
Karena sungai Gesing akan dilebarkan 15 meter, sedangkan sungai Bogel dilebarkan 30 meter. “Untuk rehap jembatan menjadi tanggung jawab pemerintah setempat. Namun rehab itu dilakukan setelah normalisasi selesai,” ungkap Fauzi Idris.
Sementara Bupati Blitar Rijanto mengatakan, banjir di Kecamatan Sutojayan merupakan salah satu masalah tahunan yang harus segera diselesaikan. Karena banjir yang terjadi setiap tahun saat datang musim hujan itu menimbulkan dampak bagi kesehatan maupun perekonomian masyarakat sekitarnya.

“Ini adalah masalah yang harus segera diatasi. Karena banjir selalu terjadi setiap tahun saat musim hujan. Dan hal itu pastinya berdampak bagi kehidupan masyarakat baik secara ekonomi, kesehatan bahkan pendidikan,” jelas bupati blitar drs Rijanto.
Pendangkalan disejumlah sungai di Kecamatan Sutojayan itu disebabkan dari bukit Tumpak Suru Desa Margomulyo dan Bukit Jurang Kendil di Kecamatan Panggungrejo. Lapisan tanah dan lumpur yang tergerus hujan, akan meluncur ke bawah bermuara di aliran Sungai Unut.
“Dari kemiringan sekitar 45 derajat, masyarakat membuka ladang yang ditanami palawija. Alih fungsi lahan Jati berubah ke palawija, membuat akar tanaman tidak kuat menahan tanah saat hujan deras tiba. “Ketika intensitas hujan tinggi air sungai sudah pasti meluap dan menyebabkan banjir menggenangi permukiman warga dan juga area persawahan,” pungkas Rijanto.
Kontributor :Dwi Haryadi Editor. :G irawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here