TIM PERUMUS MAJELIS PERS NASIONAL.. SAAT PEMILIHAN DAN MENENTUKAN PENGURUS DI RM SARINUSANTARA SURABAYA

H. Subaidi : “Saya Jamin, kawan kawan pengurus tidak ada ambisi mencongkel atau melengserkan jabatan Ketum dan Sekjen, kenapa mereka berdua sepertinya takut ya, mereka berdua itu orang hebat bertitel dan bermartabat, tapi kok licik ya., diajak menata dan meluruskan saja gak berani nongol, makanya kalau hal ini sampai berlarut-larut kurang baik bagi semua pendukung MPN”

Peristiwa Sejarah Menuju Deklarasi MPN, dibawah Musium Pers MPN Membacakan Maklumat, Sebuah tekad besar untuk memperjuangkan insan Pers Indonesia agar bermartabat

Surabaya, Panjinasional :
Berawal dari kebijakan Dewan Pers terkait verifikasi media dan uji kompetensi yang dinilai kurang memihak, para wartawan dan perusahaan pers berkumpul untuk membentuk suatu wadah sendiri yaitu Majelis Pers Nasional (MPN). MPN adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk wartawan, baik perusahaan pers maupun pribadi wartawan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan wartawan serta meningkatkan profesionalisme maupun kesejahteraan wartawan dan keluarganya,

Namun sayang, ditengah perjalanannya niat berdirinya MPN yang tulus dan suci ini, banyak yang menyorot termasuk para pendiri, pengurus dan pegiat, bahwa MPN sekarang telah dibelokkan arahnya.

Tidak ingin ada perpecahan antara wartawan yang tergabung dalam MPN, beberapa tokoh pendiri, pendukung dan pegiat mengambil langkah tegas untuk membekukan MPN serta menentukan kebijakan dan langkah apa yang akan diambil dalam waktu dekat.

Salah satu pendiri MPN, Nata Seha Saputra, mengatakan selama ini Ketua Umum dan Sekjen tidak pernah menghiraukan aspirasi dari para pendiri maupun pengurus lainnya, bahkan dengan sekehendak hatinya mereka mengeluarkanpengurus yang dianggap menentang dan mengganti dengan orang baru yang tidak tahu sejarah dan perjuangan MPN.

“Mereka sudah korbankan tenaga, pikiran bahkan financial yang tercatat dan tidak tercatat untuk MPN. Begitu sudah berdiri, mereka dibuang. Masak dari ratusan wartawan yang turut membantu dan mendeklarasikan MPN, tidak ada satupun dihargai, sampai harus mengambil orang lain yang langsung duduk sebagai pengurus,” tutur Nata Seha di pendopo THR jalan kusuma bangsa, beberapa waktu lalu.

Para pendiri dan pengurus, selain Ketum dan Sekjen berkumpul kembali di tempat yang bersejarah yaitu di Pendopo THR Surabaya. Di Pendopo itulah tempat Sejarah tercetus dan berdirinya MPN itu adalah atas prakarsa bersama, para wartawan dan media juga membantu pikiran tenaga juga dana yang tidak sedikit.

Pimpinan Redaksi Panjinasional, Gatot Irawan menambahkan, “MPN itu bukan milik per’orangan atau kelompok, tapi organisasi pers untuk kepentingan insan pers, ini ada mis komunikasi dalam menjalankan organisasi, namun anehnya hanya Ketum dan Sekjen yang tidak pernah mau diajak bicara, padahal kami tidak akan menghakimi, hanya meluruskan maunya apa dan mau dibawa kemana MPN, Lha kok membentuk pengurus baru tanpa rembuk dengan pendiri dan pengurus inti” kata Gatot sebagai pencetus nama MPN.

Seperti dikatakan Tinus Pimpinan Redaksi Media Opsi “Dalam pertemuan di Pendopo THR 29/1 lalu, bukan niat menghancurkan MPN tapi membahas dan meluruskan sebuah organisasi yang baik dan benar itu ya selalu ber kordinasi, masak posisi saya sendiri di ganti ganti sampai 4 kali, itupun tanpa kompromi dulu dengan saya” kata Tinus kepada awak media Pojokkiri.

Di celah celah pembahasan tersebut M. Bashori juga angkat bicara “Ini organisasi bukan kumpulan orang bodoh, MPN itu belum besar sudah dikuasai dan di ombang ambingkan, kepengurusan di rombak se enaknya sendiri, sejak terbentuk tidak pernah ada rapat kordinasi, tiba tiba melakukan pengukuhan di mana mana” ujar Bashori yang menjabat sebagai Humas MPN.

Ternyata para pendiri dan pengurus MPN seperti Nata Seha, Marzuki Bashori, Yus dan Gatot tidak sekali dua kali mengundang Sekjen dan Ketua Umum H. Umar, beberapa kali mereka berdua diundang untuk diajak membahas tidak pernah menghiraukan,

Padahal para pengurus hanya ingin menyelesaikan pembahasan Ad/Art yang belum sempurna, namun sudah beredar kemana-mana, padahal Udi Laksono sekjen pernah datang di kantor Panjinasional di depan pengurus dia berjanji untuk melakukan pembenahan.

“Saya Jamin, kawan kawan pengurus tidak ada ambisi mencongkel atau melengserkan jabatan Ketum dan Sekjen, kenapa mereka berdua seakan takut ya, mereka berdua itu orang hebat bertitel dan bermartabat, tapi kok licik ya, diajak menata dan meluruskan saja gak berani nongol, makanya kalau hal ini berlarut-larut kurang baik bagi semua pendukung MPN.” tambah H. Subaidi.

Hasil pertemuan tersebut di putuskan untuk segera melakukan pembekuan organisasi, karena dianggap ketum MPN melangkah tanpa koordinasi dengan pengurus, bahkan membentuk dan merombak pengurus baru, hal tersebut dianggap telah menyalahgunakan kewenangan,

Bahkan menentukan kesepakatan dalam waktu dekat pengurus akan melakukan upaya legal, tujuannya untuk mengembalikan marwah MPN yang sesuai cita-cita bersama. “Langkah awal, kami akan membekukan MPN sementara waktu sambil melakukan pembenahan AD/ART serta menyusun kembali program kedepan tentunya dengan ber koordinasi kepada seluruh pendiri, pengurus maupun stage holder yang lain untuk membantu menjalankan roda MPN kedepan. Kami juga berharap pemerintah, TNI/POLRI maupun instansi terkait untuk ikut peduli dalam hal pembekuan ini, khususnya siapa saja yang mengatas namakan MPN setelah ada pembekuan,” pungkas Bashori yang di iyakan oleh semuanya yang hadir.(Ron/Pojokkiri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here