Penulis Zaenuri (Ki Demang)
Sumenep, Panjinasional.net ~ Melihat perkembangan dunia santri dan realitas sosial bekangan ini semakin tidak terarah. Kesimpulan ini bisa dilihat berdasarkan fakta adanya santri menyerang santri senior (baca : Kyai Muda menyerang Kyai Senior tanpa ada tata krama).
Fenomena seperti ini harus disikapi bersama secara arif dan bijak. Meskipun semua itu tidak lepas dari kepentingan politik global yang sering kali tidak difahami secara utuh. kaum Santri sekarang bisa dikatakan sudah kehilangan rasa tawadlu’ kepada para kyai sebagai badalnya ulama.
Santri sekarang sudah berani menyerang Kyai, baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa alasan yang jelas. Kejadian seperti itu menunjukkan bahwa Sifat dan sikap tawadlu’ santri sudah memudar akibat hilangnya pendidikan karakter dan akhlak yang selama ini dipertahankan oleh kaum santri yang lebih senior.
Contoh : Adanya gerakan mencemooh berjamaah yang dialamatkan ke Kyai Moderat seperti Kyai Said, Gus Mus. Mereka yang mencemooh tidak segan-segan membanggakan diri dengan titel kesarjanaannya dengan ngecap lebih baik dan lurus dari pada Kyai senior. Bahkan ada yang dengan “sengaja” menyerang dengan berlindung dibalik Undang-Undang Pers.
Beda dengan Kaum Santri tempo dulu. Anggap saja santri angkatan tahun 1980-1990 an, yang tidak pernah ikut nimbrung berkonflik jika para Kyai nya ada yang berseberangan pendapat dengan kyai senior lainnya, Contoh : Pasca Muktamar NU ke-29 diCipayung telah terjadi perbedaan sikap organisasi NU antara kubu Gus Dur dengan Kubu non struktural.
Gerakan itu dilakukan oleh para pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur yang dimotori oleh KH. Yusuf Hasyim dan KH. Hasib Bisri selaku pamannya Gus Dur yang waktu itu NU dianggap berseberangan dengan ormas Islam lainnya seperti ICMI, MUI dan Pemerintah yang merugikan umat Islam antara bulan September – Oktober 1995.
Bagi kami (saya) kaum santri waktu itu menganggap bahwa : Perbedaan sikap para Kyai bukanlah wilayah yang harus dimasuki kaum santri dan ikut nimbrung didalamnya. Bahkan santri menganggap bahwa perbedaan pandangan itu dianggap sebatas perbedaan antara seorang paman dengan seorang keponakan.
Kaum santri hanya sebatas mengikuti Perkembangannya dan tidak berpihak secara terang-terangan ke salah satu kubu. Tidak berpihak bukannya diam. Kaum santri akan tetap bergerak jika ada pihak-pihak yang dengan sengaja *melakukan* pembunuhan karakter atas figur Kyai nya.
Bagaimana dengan prilaku dan sikap kaum santri sekarang..? Sekarang sudah banyak yang kehilangan arah dan hilangnya sikap tawadlu’ sebagai kaum santri. Mungkin semua ini disebabkan karena dampak lunturnya budaya santri tempo dulu yang mempertahankan sikap tawadlu’ kepada para kyai senior..@Sumenep, 11 Juli 2017
Zaenuri (KiDemang).@red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here