banner 728x90

Pemuda Sapeken Pertanyakan Perbedaan Harga Tiket Kapal Perintis, Antara Pelabuhan Sapeken dengan Pelabuhan Banyuwangi

Pemuda Sapeken Pertanyakan Perbedaan Harga Tiket Kapal Perintis, Antara Pelabuhan Sapeken dengan Pelabuhan Banyuwangi

Sumenep, Panjinasional.net ~ Harga Penjualan tiket penumpang kapal perintis yang di operasikan oleh PT Pelni untuk jurusan kepulauan Sapeken Sumenep, Madura,Jawa Timur dan Kabupaten banyuwangi mulai di pertanyakan oleh masyarakat setempat.
Pasalnya harga tiket yang dikeluarkan pihak PT Pelni yang ada di pelabuhan Sapekan tidak sama dengan harga tiket yang dikeluarkan oleh pihak PT Pelni yang ada di Pelabuhan Banyuwangi.
Dimana di pelabuhan Banyuwangi tiket/karcis di jual degan harga 13.500 (tiga belas ribu lima ratus rupiah) tetapi untuk di pelabuhan sapekan tiket/karcis kapal tersebut dijual dengan harga 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah).
Dengan adanya perbedaan harga tiket dengan jenis kapal yang sama ini, membuat masyarakat geram dan mulai mempertanyakan dasar perbedaan harga tiket tersebut.
Haitami Tokoh Pemuda Sapeken, kepada media ini menyatakan, ” Adanya perbedaan harga tiket yang terjadi di pelabuhan sapekan dengan pelabuhan banyuwangi ini patut kita pertanyakan sekaligus juga patut kita curigai, jangan-jangan perbedaan tersebut hanya akal-akalan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” kata Haitami, Sabtu, (01-07-2017).
“Kenapa saya mengatakan seperti itu, karena jenis kapalnya sama, yaitu kapal perintis pemiliknya juga sama-sama PT Pelni. Tetapi aneh nya kok ada perbedaan harga tiket disitu antara pelabuhan sapeken dengan pelabuhan banyuwangi, padahal rutenya kan sama,” tuturnya.
“Dan perbedaannya pun sangat mencolok mas dari harga Rp.13500 (tiga belas ribu lima ratus rupiah) ke harga 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah) disini sudah jelas sekali ada kesenjangan dengan marjin 11.500 (sebelas ribu lima ratus rupiah) per orang.
Masih Haitami “Sekarang yang menjadi pertanyaan kami kenapa sampai bisa berbeda antara pelabuhan banyuwangi degan pelabuhan sapeken padahal kapal yang digunakan tetap sama yaitu milik PT Pelni, apakah perbedaan ini memang aturan dari PT Pelni atau adanya indikasi permainan oknum pelabuhan?,” bertanya.
“Kalau memang aturan dari Pihak operator dalam hal ini PT Pelni maka saya minta penjelasan kepada pihak operator, namun jika permainan dari oknum yang tidak bertanggung jawab maka saya minta pihak terkait untuk melakukan tindakan terhadap oknum tersebut,” ucapnya.
Sementara Kepala Syahbandar Pelabuhan Sapeken Opec saat dihubungi awak media ini melalui telpon genggamnya membenarkan adanya perbedaan harga tiket tersebut. “Memang benar ada perbedaan harga tiket antara Sapeken dengan Banyuwangi, tetapi perbedaan tersebut karena di pelabuhan sapeken tidak ada perwakilan langsung dari pihak PT Pelni, melainkan agen pelayaran, sedangkan kalau di pelabuhan banyuwangi itu yang menjual tiket langsung dari pihak PT Pelni sendiri,” kata Opec.
Dengan mereka para calon penumpang membeli tiket langsung ke PT Pelni mungkin pihak PT Pelni tidak perlu mengambil keuntungan, kalau yang di sapeken inikan berbeda mereka belinya ke agen bukan ke pihak PT Pelni langsung, karena di sepekan tidak ada kantor Pelni maka pihak PT Pelni Surabaya menunjuk perwakilan yaitu PT Surya timor perkasa.
“Jadi perbedaan harga itu karena pihak PT Pelni dipihak ketigakan karena di sapeken tidak ada kantor cabang perwakilan dari PT Pelni.
Ditanya apakah ada mekanisme yang mengatur tentang perbedaan harga tiket tersebut (red)…?
Opec, “Tidak ada, tetapi di situ ada rinciannya, Kalau harga dari subsidi pemerintah itu sama, cuma kalau yang di sapeken itu kan rinciannya pas masuk pelabuhan, Rp 2000 (dua ribu rupiah) pelayanan jasa terminal penumpang, Rp 2000 (dua ribu rupiah) totalnya 20.500 (dua puluh ribu lima ratus rupiah) sedangkan sisa yang 4.500.( empat ribu lima ratus rupiah) itu merupakan keuntungan agen,” tuturnya.
Sementara dengan adanya marjin harga seperti itu berarti masyarakat tidak menikmati harga tiket subsidi pemerintah akibat ada pihak ketiga dalam penjualan tiket tersebut (red).?
“Kepala Syahbandar Opec berdalih tidak seperti itu, “begini yang disubsidi pemerintah itu adalah biaya trasportnya, kalau dikomersilkan itu lebih dari 6 kali 13.500. (tiga belas ribu lima ratus rupiah) tetapi harus tetap membayar pas masuk pelabuhan. Dan masyarakat tetap menikmati Subsidi tersebut, tetapi menikmatinya kan itu dari segi pelayarannya yang dari sapeken-banyuwangi itu, harusnya itu anggap lah yang 20.000 (dua puluh ribu rupiah), jadi berapa gitu…!! Kan ada ples-plesnya disitu,” jelasnya.
“Dan itu sudah diatur dalam PP no 15 tahun 2016 tentang tarif penerimaan negara bukan pajak yang berlaku di Kementerian Perhubungan.
“Jadi itu di setor ke kas negara setiap bulan. karena ini tidak ada mekanisme yang mengatur, maka yang disetor ke pihak kapal tetap yang 13.500. (tiga belas ribu lima ratus rupiah) itu,” pungkasnya.@ (rokib/red)

Tags: ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!